Senin, 27 November 2017

Sejarah Desa Patuanan

Sejarah Desa Patuanan
DESA PATUANAN

                                                                  Peta Desa Patuanan

Luas Wilayah : 195, 630 Ha­­
Jumlah Penduduk:Laki-laki (1529 orang), Perempuan (2433 orang) Total: 3962 org
Jumlah  KK 1220 KK (2013)
Kepadatan 48 jiwa/km 

Pengenalan/Pendahuluan

Patuanan adalah nama sebuah desa berbahasa Jawa Cirebon yang terletak di tengah-tengah masyarakat Berbahasa Sunda (Kecamatan Leuwimunding, Majalengka). Bahasa Jawa Cirebon dituturkan oleh warga desa dalam kehidupannya sehari-hari sehingga terkadang warga desa sekitarnya sering menyebut desa ini sebagai “Jawa Tengah”. Jawa di tengah-tengah orang Berbahasa Sunda.
Warga Desa Patuanan pada umumnya mampu menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Jawa Cirebon dan Bahasa Sunda. Bahasa Jawa Cirebon merupakan bahasa utama yang digunakan warga desa dalam percakapan sehari-hari hingga saat ini, termasuk acara resmi seperti khutbah jum’at atau pidato kuwu (pemimpin eksekutif di desa).  Bahasa Sunda menjadi bahasa kedua, Bahasa Sunda digunakan warga desa apabila kedatangan tamu Orang Sunda atau siapapun yang singgah di wilayah Desa Patuanan namun dia tidak dapat berbahasa jawa, digunakan saat berkomunikasi dengan warga desa tetangga dan sekitarnya, dan digunakan pada situasi-situasi yang mengharuskan warga desa berbahasa Sunda seperti warga pendatang atau ketika ada menantu yang berasal dari desa lain yang berbahasa sunda maka serta-merta tetangga sekitarnya akan menggunakan Bahasa Sunda ketika berkomunikasi dengan orang tersebut. 

Sejarah Singkat

Asal mula Desa Patuanan memang ada beberapa versi namun versi yang terkuat adalah karena datangnya serombongan guru dan murid dari Desa Kebagusan, Kabupaten Cirebon. Dikisahkan ada seorang anak kecil bernama Kembar Pegambuan yang memiliki kesaktian. Kembar Pengambuan pergi dari rumahnya hingga jauh ke hutan yang sekarang bernama Pegambuan (sekarang masuk wilayah Desa Sindanghaji/Dukuh Deog meskipun wilayah ini dulunya masuk ke dalam wilayah Desa Patuanan). Jadi, Kembar Pegambuan lah yang pertama kali datang ke Patuanan, sehingga acara adat “munjung” biasanya diawali di Pegambuan baru kemudian ke tempat lainnya, meski pada kenyataannya terkadang dilakukan pertama kali di Panggonan Gede, tempat pemimpin para buyut yakni Maqom Buyut Pernata Kusuma/Pangeran Kipas.
                           Makam Mbah Buyut Pernata Kusuma di Panggonan 

Anak kecil yang pergi ini dicari oleh orang tua/tetua (bukan orangtua kandungnya) yang bernama Pangeran Kipas atau lebih dikenal sebagai Mbah Buyut Pernata Kusuma. Pangeran Kipas adalah seorang resi/guru. Karena Sang Guru pergi maka para muridnya pun mengikuti jejak gurunya. Berikut nama-nama para murid Pangeran Kipas:
1.      Buyut Kembar Pegambuan. Anak kecil yang pertama kali datang ke Desa Patuanan.
2.      Buyut Suranenggala (sura=wani=berani, nenggala/menggala=gaman=senjata) atau Buyut Capang, seorang panglima perang berkedudukan di perbatasan desa dengan Desa Nanggerang.
3.    Buyut Amal berasal dari Desa Megu, Cirebon yang senang bercocok tanam, hasil taninya biasa dibagi-bagikan kepada para warga hingga beliau terkenal dengan nama Buyut Amal.
4.   Buyut Nuriman. Asal dari Kebagusan, Cirebon. Konon beliau memiliki peliharaan perkutut putih. Berkedudukan di Kleben, blok Minggu.
5.      Buyut Dekimah. Berkedudukan di Blok Senen.
6.      Buyut Lanjar. Berkedudukan di Blok Senen.
7.      Buyut Sangkep. Berkedudukan di Blok Selasa.
8.      Buyut Nitisari. Berkedudukan di Blok Selasa. Konon beliau memiliki kuda lumping yang dapat terbang. Beliau berasal dari Trusmi, Cirebon.
9.      Buyut Kaprah/Semidin. Seorang ahli pewayangan/dalang wayang. Konon beliau memiliki kesaktian mampu  berada di lebih dari satu tempat dalam waktu bersamaan (kaprah).
10.  Buyut Kuliangsari. Berkedudukan di Blok Rabu.
11.  Buyut Jati/Kawad. Berkedudukan di Blok Kamis.
12.  Buyut Winayu. Berkedudukan di Blok Rabu. 
           Beliau seorang puteri dari Kerajaan Talaga Manggung. Buyut Winayu memiliki pusaka bernama “cupu manik pesugihan”. Terbuat dari emas yang sempat hampir dicuri oleh Buyut Buniwangi yang bernama Ki Bodo Bener. Karena Buyut Winayu sudah tahu bahwa akan ada pencurian, maka beliau membuat gunung api yang berkobar. Karena Bodo Bener seorang yang sakti maka Bodo Bener dapat selamat walaupun melewati bara api. Bodo Bener hanya mendapat bekas hitam (gosong) di seluruh kulitnya. Hal ini yang menyebabkan orang-orang Desa Buniwangi cenderung memiliki warna kulit hitam gelap. Nama “Buniwangi” sendiri diambil dari kata “buni” dan “wangi”. Jadi sebenarnya pusaka itu tidak dapat dicuri karena “buni” (tersembunyi)  dan Bodo Bener hanya mendapat “wangi”-nya saja/baunya.
13. Buyut Simah/Buyut Kodok. Berasal dari Kebagusan. Berkedudukan di Blok Jumat. Konon kesaktiannya dapat berubah menjadi “kodok”/katak.
14.  Buyut Katimaha/Buyut Dekimah. Berkedudukan di Blok Senin.
15. Buyut Sangkin yang berkedudukan di Mindana. (sekarang masuk wilayah Desa Sindanghaji). Berasal dari Jawa Tengah.

Singkatnya berhasillah ditemukan anak kecil tersebut sehingga Pangeran Kipas pun membuka hutan di daerah yang sekarang termasuk wilayah Desa Patuanan, Sindanghaji dan Tarikolot. Konon wilayah Patuanan dahulu sangat luas sampai ke perbatasan Desa Pasir, Palasah.  Patuanan dan Sindanghaji dijadikan dua desa pada masa Penjajahan Belanda. Sindanghaji kemudian dimekarkan menjadi Desa Sindanghaji dan Tarikolot. “Tarik” dan “kolot”. “Ditarik kunu kolot”, yang maknanya ditarik orang tua/Patuanan; bukan orang tua yang sedang menari seperti yang dipahami sebagian anak muda Tarikolot.
Berikut ini disebutkan tanda bahwa ketiga desa tersebut merupakan wilayah yang “dibabak” oleh Pernata Kusuma:
a.       Sawah Lebak Nata di Desa Tarikolot, diambil dari nama Buyut Pernata Kusuma/Pangeran Kipas.
b.      Dukuh atau Blok Nata di wilayah Desa Sindanghaji.

Buyut Pernata Kusuma memiliki seorang anak bernama Janur Wenda yang memiliki jasa besar pada pertempuran melawan kerjaaan Eretan, Indramayu yang dipimpin Raden Wilalodra.
Dikisahkan Pasukan Cirebon terdesak oleh kepungan tentara Eretan hingga akhirnya Mbah Kuwu Sangkan/Pangeran Cakrabuana/Walangsungsang (Anak Prabu Siliwangi) meminta bala bantuan kepada penjaga pusaka keraton cirebon yakni Pangeran Kipas/Buyut Pernata Kusuma dengan mengutus Syarif Durahman yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kalijaga. “Wa, tolong kami. Pasukan Cirebon terdesak di Eretan”, begitu pinta Syarif Durahman. “Aduh saya sudah tua, anak saya saja ya Janur Wenda”, begitu jawab Pangeran Kipas.
Janur Wenda pada saat itu sedang tapabrata di Gunung Dieng. Mendapat berita bahwa ayahnya menyuruh dia pulang. Pulanglah Janur Wenda. Konon karena kesaktiannya sebatang pohon jadi kering karena dijadikan sandaran Janur Wenda pada saat kelelahan.
Singkatnya sampailah Janur Wenda di Patuanan dan berpamitan dengan ayahnya hendak ke Eretan membantu Pasukan Kesultanan Cirebon. Sesampainya di Eretan, Raden Wilalodra sudah menyiapkan senjata rahasianya, sebuah golok sangat besar yang disimpan di Desa Bugel. Bertemulah Janur Wenda dengan Raden Wilalodra di Desa Sumur Adem (sekarang wilayah Kab. Indramayu) dan dengan cepat golok pusaka Raden Wilalodra dipukulkan ke Janur Wenda hingga amblas ke tanah. Ternyata golok yang disimpan di Desa Bugel itu mampu membuat Janur Wenda amblas. Merasa telah menang, Raden Wilalodra dan pasukannya pun pulang.
Karena lama belum juga ada kabar dari Janur Wenda, maka Mbah Kuwu Sangkan/Pangeran Cakrabuana datang ke Eretan dan  ditemukkannya Janur Wenda amblas ke dalam tanah. Dikibaskanlah serban Mbah Kuwu Sangkan, lalu keluarlah Janur Wenda dengan selamat. Bekas amblasnya Janur Wenda keluarlah sumber air yang kemudian ditandai dengan tanaman sere hingga akhirnya diberi nama “sumur sere” atau “sumur adem” yang kemudian menjadi nama sebuah desa di Kecamatan Eretan, Desa Sumur Adem sekarang.
Selepas perang dengan Eretan, Janur Wenda pulang ke ayahnya, Buyut Pernata Kusuma di Patuanan. Singkat Cerita Mbah Buyut Pernata Kusuma, keluarga dan para pengikutnya menetap hingga beranak pinak hingga sekarang di Patuanan lama (sekarang wilayah Patuanan, Sindanghaji dan Tarikolot). Seiring berjalannya waktu, sekarang hanya Desa Patunan saja yang masih menjaga tradisi menggunakan Bahasa Jawa Cirebon dan sebagian kecil wilayah Desa Sindanghaji (wilayah Mindana dan Tegalmerak), meskipun pada kenyataannya wilayah Mindana dan Tegalmerak tidak sepenuhnya menggunakan bahasa jawa dalam kesehariannya (hanya sebagian kecil orang tua saja yang terkadang masih menggunakan Bahasa Jawa).













                                           
Sejak dimulainya penjajahan Belanda, maka pemerintah kolonial Belanda membentuk wilayah-wilayah desa yang dikepalai oleh seorang kuwu (diambil dari nama Mbah Kuwu Sangkan) yang dimaksudkan agar para pemimpin desa meneladani kepemimpinan Mbah Kuwu Sangkan/Pangeran Cakrabuana. Untuk Wilayah Desa Patuanan sendiri dibagi menjadi dua bagian wilayah yakni Patuanan yang merupakan tempat-tempat kedudukannya para tetua yakni Mbah Buyut Pernata Kusuma dan para muridnya dan satu wilayah lagi yakni desa Sindanghaji di sebelah barat. Berikut ini nama-nama kuwu yang pernah menjabat sebagai kuwu di desa patuanan :
1.   Buyut Ngabeih Mangunteki yang merupakan kuwu pertama. Dikisahkan Buyut Ngabeih Mangunteki memiliki keahlian membangun “mangun” “teki” (bangunan di atas air). Dikatakan “ngabeih” yang asal katanya “kabeh” artinya semua. Dikisahkan ada sayembara di wilayah kewedanaan Rajagaluh. Waktu itu ada pesta raja di Rajagaluh dan kerbau yang dijadikan santapan pesta ternyata mengamuk. “hai para kuwu ada yang sanggup tidak menaklukkan kerbau itu ?”: kata seorang panitia pesta. Semua diam hingga akhirnya ada yang menunjuk Kuwu Patuanan. Benar saja sang kuwu pertama ini sanggup menaklukan kerbau itu. Oleh karena kemampuannya dalam banyak hal, maka kuwu pertama ini dijuluki Buyut Ngabeih Mangunteki.
2.  Buyut Sijran. Pada masa kuwu kedua ini 2 wilayah Patuanan lepas menjadi wilayah Sindanghaji akibat kekalahan berjudi. Mindana dan Dukuh Deog jadi bayaran taruhan.
3.      Buyut Sarpan
4.      Buyut Arniem
5.      Buyut Rawen
6.      Buyut Sudirah
7.      Buyut Kipan. Pada masa ini tempat balai desa menetap di balai desa yang sekarang karena merupakan tanah wakaf dari Mbah Buyut Kipan. Sebelumnya balai desa berpindah-pindah sesuai tempat tinggal kuwu.
8.      Buyut Darsih
9.      Bapak Tarma
10.  Bapak Darpan   (1944-1950)
11.  Bapak Kantun       (1950-1960)   
12.  Bapak Abdul Fattah (1960-1972).
Pada masa kuwu ini dimulailah kebiasaan warga menganyam bambu menjadi “kukusan” (aseupan: B. Sunda). Ini berawal dari kerprihatinan bahwa rakyat desa tidak memiliki kegiatan di saat sawah tidak dalam masa garap. Maka Kuwu Fattah (Panggilan akrabnya) pada tahun 70an sengaja mendatangkan orang sumedang untuk mengajari warga desa mngenyam “kukusan”. “Kukusan” sampai sekarang menjadi maskot Desa Patuanan.
Sebelum masa Kuwu Fattah upaya untuk membuka jalur pengairan sudah dilakukan, namun selalu menemui kegagalan. Pihak Desa Parakan tidak mau memberikan air untuk pengairan yang berasal dari Sungai Cimanuk. Lalu tak kehabisan akal, Kuwu Fattah mengajak diplomasi Kuwu Parakan. Kuwu Fattah sering mngajak makan Kuwu Parakan hingga akhirnya mereka akrab dan Kuwu Parakan akhirnya bertanya: “Pak, kenapa yah Parakan sama Patuanan bermusuhan?, tidak boleh menikah dan sebagainya?”. “Jadi begini, dulu Desa Kita seolah bermusuhan karena memang kita berbeda agama, Anda agama Budha/Hindu sedangkan kami di Patuanan beragama Islam. Makanya kita tidak boleh menikah. Nah sekarang, di Parakan ada mesjid, di Patuanan juga ada mesjid. Berarti kita sekarag bersaudara. Bukan musuh. Nah bermusuhan menurut Anda bagus apa jelek?”. Jawab Kuwu Fattah panjang lebar. “Ya jelek atuh pak”. Jawab Kuwu Parakan. “Nah kalo jelek kenapa mesti dilanjutkan?”. Lanjut Kuwu Fattah. Akhirnya Kuwu Parakan terbuka hatinya dan mau membuka saluran air dari Sungai Cikamangi di sebelah timur balai Desa Parakan. Sampai sekarang saluran air ini mampu mengaliri sawah di Desa Patuanan, Parakan, Nanggerang, sebagian Lame dan Sindanghaji dan Tanjungsari.
      Pada masa Kuwu Fattah pasar Jorongan mencapai puncak kegemilangannya. Pasar ini begitu ramai karena menjadi pusat perekonomian dan perbelanjaan desa-desa di sekitarnya. Desa Sindanghaji dan Tarikolot, Parakan, Nangerang, Heuleut dan Tanjungsari,  Karangasem, hingga Weragati adalah pengunjung utama pasar ini. Hampir setiap minggu juga diadakan pertunjukan rakyat seperti sandiwara, topeng, sintren, wayang kulit, tarling dan lain-lain. Maka Pasar Jorongan semakin ramai saja. Seiring berjalannya waktu dan perubahan kebijakan pemerintahan desa, hiburan rakyat mulai ditinggalkan, Angkutan umum seperti angkot membuat orang-orang lebih memilih Pasar yang lebih besar untuk berbelanja seperti ke Pasar Rajagaluh atau Leuwimunding. Sekarang bahkan Pasar Jorogan semakin sepi saja dan hanya “hidup’ pagi hari saja hingga pukul 09:00 WIB. Hampir setiap orang memiliki kendaraan sendiri dan mereka lebih memilih pasar yang lebih besar.
13.  Bapak Markim (1972-1982)
14.  Ibu Sugiati (1982-1990)
15.  Bapak Leginda (1990-1998)
16.  Bapak Tarsidi (1998-2005)
17.  Bapak Aan Subhan (2008-2012)
18.  Bapak Uha Suhadi 2013-sekarang.

Di atas terdapat daftar nama kuwu dari yang pertama sampai sekarang. Tahun menjabat sebelum kuwu Darpan sengaja tidak disebutkan, meskipun ada versi yang sengaja mengira-ngira selang 10 tahun ada kuwu, padahal hal itu tidak bisa menjadi dasar karena pada jaman dahulu masa bakti kuwu tidak ada waktu yang ditentukan, selama kuwu tersebut masih dipercaya masyarakat, maka selama itu kuwu tersebut menjabat.
                                    Mesjid Desa Patuanan

Demikian sejarah singkat Desa Patuanan dari versi yang paling banyak diyakini kebenarannya, Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil wawancara dengan sesepuh desa dan kuwu ke 12 (Bapak Abdul Fattah; kakek penulis) selama hidupnya sebagai sumber utama. Meskipun pada saat tulisan ini dibuat Juni, 2016 Bapak Fattah sudah berpulang (2010). Selain itu cerita ini memang sebagian besar diyakini masyarakat secara umum. Meskipun masih ada versi lain yang menyatakan bahwa Patuanan bukan berasal dari kata tua melainkan “tuan” karena dulu tentara Cirebon disebut “tuan”. Versi ini tidak mengakui bahwa Patuanan ini paling tua karena asumsi bahwa masih banyak kuwu desa lain yang lebih banyak dari Desa Patuanan. Padahal banyaknya kuwu bukan jaminan bahwa suatu daerah lebih tua karena masa jabatan kuwu tidaklah sama. Selain itu maksud “tua” bukanlah paling tua di seluruh wilayah Cirebon atau Majalengka (jelas yang namanya pendatang tidak mungkin paling tua; pendatang dari Cirebon membuka lahan baru), melainkan paling tua jika dibandingkan dengan desa-desa di sekitarnya (Sindanghaji, Tarikolot, Tanjungsari, Heuleut dan sekitarnya). 

Tulisan ini tergerak dari kesadaran kuat akan pentingnya pengetahuan mengenai Sejarah Desa kita yang unik. Penulis dengan senang hati akan menerima saran dan kritik dari pembaca.


Penulis,

Iwan Ridwan Wahidin S.Psi
             








Sabtu, 13 Oktober 2012

Kepuasan Pernikahan pada Perempuan yang Dimadu

Mohon maaf postingan ini dihapus sama yang punya artikel / adminnya... jika bth informasi mari belajar bareng dan berdiskusi di Ym, fb, dan twitter di  iwan_ridwan02@yahoo.co.id
Terima kasih

Kamis, 17 Mei 2012

BAHASA DAN ISI KEPALA

BAHASA DAN ISI KEPALA

Dikisahkan seorang Togar baru beberapa hari tinggal di Jakarta. Di Jakarta ia tinggal bersama pamannya. Sudah tiga hari Togar di rumah sang paman tanpa keluar rumah, Lama-kelamaan Togar pun merasa bosan diam saja di dalam rumah, ia meminta izin kepada pamannya untuk keluar rumah sebentar. “Tulang, boleh aku keluar sebentar saza ya ?” : pinta si Togar. “Ya boleh, awas kau jangan lama ya, 30 menit !” : jawab sang paman. Singkat cerita keluarlah Togar dari dalam rumah sang paman, melihat ke kanan dan kiri “wah, wah Zakarta memang keren, betul apa kata si mamak”. Setelah sekira 5 menit berjalan tiba-tiba perhatian Togar terfokus pada banner bertuliskan “WAROENG TJIREBON MENYEDIAKAN EMPAL GENTONG LEZAT”.  Togar pun memutuskan untuk masuk mampir ke warung tersebut.
“Pak, aku satu ya !” : pinta Togar. “Owh ya, sebentar mas”. Tidak berapa lama datanglah si abang penjual empal itu dengan membawa makanan andalannya “empal gentong khas Cirebon”. “nih mas, mangga” : ucap si abang empal. “ya ya, hm hm sedap kali baunya pasti enak”. Tanpa banyak cakap Togar dengan cepat melahap empal tersebut hingga habia tak bersisa dan malah nambah. “tambah lah lagi tulang, yang banyak ya !” : pinta si Togar. Mendengar pinta Togar si abang lekas ke ke belakang dan membawa banyak tulang buat si Togar dalam mangkuk besar. “ini bang tulangnya” : si abang berkata.  Melihat si abang membawa mangkuk berisi tulang Togar pun kaget :“waduuuhhh,,,,yang benar saza, masa isinya tulang semua, mana empalnya !!!!”.
Kejadian di atas hanyalah satu dari sekian banyak kasus salah mepersepsi / memaknai bahasa. Togar menggunakan kata “tulang” dengan makna paman atau abang, sedangkan si penjual empal memahaminya sebagai tulang dalam bahasa Indonesia yang berarti tulang sapi. Untung saja hanya masalah tulang sapi dan makan si Togar, bagaimana jika kejadian semacam ini terjadi dalam level yang besar seperti saat situasi genting semisal peperangan ?.   
Menurut sebagain besar filsuf, dunia ini adalah dunia yang tempat ia ditangkap, dan terutama dipersepsi oleh pancaindra dan otak (Pasiak, 2002). Persepsi diperoleh dari pancaindra melalui sensasi atau penginderaan. Saat mendengarkan lagu “semua tentang kita” karya Peterpan Anda dan saya  mempersepsikan lagu tersebut sama, mirip atau bahkan berbeda sama sekali. Saya mempersepsikan lagu tersebut sebagai sebuah lagu yang mengisahkan dua hati yang sudah lama  menyatu, kemudian waktu dan keadaan memaksan mereka berpisah. Nah , bagaimana dengan Anda mempersepikan lagu tersebut?.
Persepsi adalah pekerjaan otak, bila sensasi (masuknya impuls berupa informasi melalui pancaindra) terjadi pada ujung-ujung syaraf, maka persepsi terjadi pada pusatnya (Pasiak, 2002). Persepsi membentuk pikiran dan cara berpikir, komponen paling penting dalam berpikir adalah memperspsi (Pasiak, 2002). Ternyata persepsi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Bahkan persepsi membentuk pikiran kita dan cara berpikirnya. Persepsi memiliki peranan penting dalam membentuk pikiran kita seperti pada saat mendengarkan  lagu Peterpan “Semua Tentang Kita”. Suara lagu masuk ke dalam telinga sehingga terjadi sensasi, setelah itu suara itu dihantarkan ke otak untuk dipersepsikan / atau dimaknai. Persepsi merupakan suatu proses dimana otak mengorganisasikan dan menginterpretaskan informasi sensorik (Carol & Wade, 2007).
Pada 1860, Paul Broca menemukan bahwa adanya kerusakan pada bagian tertentu di otak menimbulkan kesulitan berbicara (Pasiak, 2002).. Bagian otak tersebut kemudian dinamai area broca sesuai nama penemunya. Kerusakan Broca tersebut dinamakan afasia ekspresif atau afasia motorik. Penyaklit ini membuat penderitanya berbicara tanpa makna, aksentuasinya lambat dan tidak tegas. Hal ini menyebabkan lawan bicarnya kesulitan menangkap maksud yang hendak disampaikan si pembicara.
14 tahun kenudian pada 1874, Carl Wernicke menemukan bahwa kerusakan bagian tertentu pada otak dapat membuat seseorang kesulitan untuk berbahasa (Pasiak, 2002). Bagian otak tersebut kemudian dinamai area wernicke. Ucapan orang lain dapat didengar, huruf-hruf masih dapat dibaca tetapi semua informasi tersebut tidak dapat dia fahami. Orang yang   menderita kerusakan otak pada bagian ini mampu berbicara dengan kata dan artikulasi yang baik, namun apa yang diucapkannya tak bermakna. Kerusakan di area tersebut dinamakan afasia resptif atau afasia sensoris.
Anda pernah bukan mendengar istilah “bahasa menunjukkan bangsa” ?, bagaimana dengan istilah  “bahasa menunjukkan bahasa” ?. Anda mungkin setuju dengan istilah yang pertama bukan ?. Nah bagaimana dengan istlah yang kedua apakah Anda juga  menyetujuinya atau tidak setuju sama sekali ?.
Bahasa adalah bentuk komunikasi baik lisan, tulisan atau tanda yang didasarkan pada sistem simbol (Santrock, 2008). Dengan bahasa infromasi dapat ditransformasikan ke orang lain. Semakin banyak dan kompleks suatu informasi yang ingin disampaikan, maka semakin banyak dan kompleks pula bahasa yang digunakan. orang yang memiliki pengetahuan lebih banyak akan lebih banyak memiliki perbendaharaan kata dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki banyak pengetahuan.
Saya sewaktu SLTP belum begitu mengerti mengenai penggunaan istilah dalam pengetikan microsoft word. Kemudian apa yang saya lakukan ketika mengalami kesulitan untuk melakukan suatu perintah semacam cara mengkopi teks ?. Ya, saya akan menanyakannya ke kakak kelas dengan bahasa yang lugu : “kak, gimana caranya sih biar ini anu tulisannya bisa banyak ?”. Sang kakaK kelas mungkin akan menjawab: “owh itu, ya kamu tinggal di-drug aja diteksnya, control C terus di-paste”. Kata baru “drug”dan  “paste”  membuat saya bertanya lagi “apa sih kak “drug”dan  “paste” itu ?. Syukur kalo pengucapannya (fonologinya) benar jika salah (dibaca DRUG, PASTE misalkan; bukannya drag dan pest), saya malu dua kali.
Jika saja saya sudah tahu istilah untuk memperbanyak teks, tidak mungkin saya akan menggunakan kata “anu” dan tidak akan menanyakan ulang apa itu “drug”dan  “paste. Dari ceerita saya tadi jelas bukan kalau bahasa itu menunjukkan isi kepala ?.  Kegiatan berbahasa merupakan pekerjaan otak paling tinggi dan cangih yang membedakan kita dnegan makhluk lainnya (Pasiak, 2002). Semakin cerdas suatu makhluk, maka semakin pandai dia dalam menggunakan bahasa.
Coba Anda perhatikan bagaimana hewan-hewan disekitar Anda apakah mereka memiliki bahasa?. Jika ya, apakah ada di antara mereka yang memiliki bahasa sekompleks manusia?. Sebagai contoh kucing. Kucing saat lapar, saat terancam menggunakan bahasa dengan fonon yang sama “meong”, bahkan untuk menaksir lawan jenisnya kucing tetap saja menggunakan “meong”. Yang membedakannya mungkin hanya intonasi dan frekuensinya saja. Hal ini terjadi karena binatang seperti kucing tidak memiliki kapasitas biologis untuk berbahasa sebagaimana manusia (Santrock, 2007). Satu kata dalam “meong” di dunia kucing, memiliki banyak sekali semantik,  sehingga kucing memiliki keterbatasan dalam menyatakan hal yang lebih kompleks dan spesifik.
Mari kita bayangkan bagaimana jika kita hidup hanya menggunakan satu kata layaknya kucing. Ingin makan, minum, mandi, jalan-jalan, sekolah, “nembak” perempuan sama-sama bilangnya  ”meong”. Ketika kita ingin minta makan di warung nasi uduk yang pelayannya seorang nenek.  Mengatakan meong akan mungkin ditangkap naksir¸ padahal yang kita meminta makan, ditanggapi oleh si nenek tukang nasi uduk sebagai naksir. Wah kacau kan akibatnya ?. Fungsi bahasa dalam keseharian adallah untuk menanyakan mengenai respon atau ungkapan umum yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari (Nurhidayat, 2008).
Bahasa semakin berkembang seiring berkembangnya jaman. Kata-kata semacam kepo, galau, “nembak”, rese, lola (loading lama), dan bete mungkin belum ada di masa 50-an. Coba Anda tanyakan kata-kata tadi ke kakek atau nenek Anda apakah kata-kata tadi sudah ada di masa mereka. Bahasa sejatinya bukan berupa kata-kata saja (bahasa verbal), ada juga bahasa non verbal yang terdiri dari bahasa tubuh, bahasa alam, simbol-simbol dan apa saja yang memiliki makna atau dimaknai oleh menusia. Selain sebagai alat komunikasi bahasa juga menjadi alat berpikir (Pasiak, 2002)
            Bahasa  mengantarkan umat manusia dari masa prasejarah ke masa prasejarah. Sejak bahasa verbal dituangkan dalam bentuk simbol-simbo atau tulisan, manusia meninggalkan masa prasejarahnya menuju masa sejarah.  Dengan adanya tulisan manusia mampu membaca pesan / informasi yang ingin disampaikan  oleh penulisnya. Bahasa tulis digunakan untuk menyampaikan pesan hingga bahasa pengkodean di dunia komputer yang memungkinkan komputer memiliki kecerdasan artifisial., sebuah kecedasan ilmu komputer yang mengembangkan hard & software untuk emulasi fungsi kognitif manusia  (Levianti, 2012). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa memang memiliki peranan yang penting dalam proses berpikir manusia. Oleh karena itu ungkapan “Bahasa menunjukkan isi kepala” itu benar adanya.



DAFTAR PUSTAKA

Carol, Tavris & Wade, Carole 2007.  Psikologi Edisi Kesembilan Jilid  .terj. Widyastama, Benedicktine. Jakarta : Erlangga.
Levianti. 2012. Kecedasan Artifisial. ppt. Universiras Paramadina.
Nurhidayat, 2008. Ujian Nasional SMP. Jakarta : Media Pusindo.
Pasiak, Taufik. 2002. Revolusi IQ / EQ / SQ Menyingkap Rahasia Kecerdasan Berdasarkan Al-Quran dan Neurosains Mutakhir. Bandung : Mizan.
Santrock, John. W. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Terj. Wibowo, Tri. Jakarta : Penerbit Kencana.

Sejarah Singkat Desa Patuanan, Leuwimunding, Majalengka

Sejarah Singkat Desa Patuanan sudah ditulis di wikipedia, harap liat versi revisi tunda untuk tulisan ter-update. DESA PATUANAN ...